Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Sutanta Aditya Lubis


VideoMay 31, '11 6:16 PM
for everyone
Kolaborasi antara dua fotografer yang bertugas untuk liputan paska bencana Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia dalam essay photo.



Download this and other original video files with Multiply Premium.

LinkMay 31, '11 3:46 PM
for everyone




Photo AlbumPuncak SinabungApr 28, '09 1:53 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumKebakaranSep 4, '08 10:56 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumThe Fresh FlowersAug 30, '08 11:54 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumMesjid Al OsmaniAug 30, '08 11:46 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumSuatu Senja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)Jun 24, '08 11:17 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumLau KawarJun 24, '08 9:25 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
DANAU LAU KAWAR SEBAGAI TEMPAT PETUALANGAN BAGI PECINTA ALAM

Oleh: Sutanta Aditya

KEINDAHAN Danau Lau Kawar merupakan salah satu faktor pemikat bagi sejumlah para pecinta alam bebas. Luas Danau Toba yang mencapai 1.265 kilometer persegi, bukan lah menjadi pembanding dengan luas Danau Lau Kawar yang hanya 200 hektar. Namun, Lau Kawar memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah indahnya dengan Danau Toba yang telah mendunia.
Perjalanan dengan melewati sejumlah kelok yang begitu melelahkan tubuh, seakan terpulihkan ketika kita tepat berada di tepian Lau Kawar yang terletak di ketinggian 1.425 meter dari atas permukaan laut. Saat kita berada di Hamparan luas danau yang indah itu, keindahan dan kesejukan seolah mengusir kepenatan.
Beningnya air Lau Kawar serta udara yang sejuk, merupakan salam pembuka ketika kita sampai di tepian danu lau Kawar. Keindahan semakin terasa ketika kita berada di tepian Lau Kawar dan memandang hamparan air yang bergemiricik dihembus angin yang banter meniup.
Masyarakat dengan rakit-rakit kecil tampak menepi seusai mencari ikan seiring dengan sang surya yang kembali keperaduannya, hal itu merupakan pesona memikat yang luar biasa indahnya. Riak gelombang dengan lembut memecah bias air dari refleksi pencari ikan yang berada ditas perahu.
Danau Lau Kawar merupakan salah satu rantai ekosistem makhluk hidup disana. Tak heran jika danau Lau Kawar menjadi andalan utama masyarakat yang bermukim disekitarnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Selain air jernih dan tenang, rimbun pepohonan yang mengelilingi danau ini menjadi pemikat tersendiri bagi pecinta petualangan alam. Sehingga tak heran, para pecinta alam banyak melampiaskan hobinya di kawasan itu.
Danau Lau Kawar di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara adalah satu dari dua danau di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), selain Danau Marpunge.
Danau ini merupakan salah satu pintu gerbang utama para pendaki untuk mencapai puncak Gunung Sinabung yang memiliki ketinggian 2.451 meter dpl. Selama ini gunung tertinggi di Sumut ini merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki.
Di samping itu, Deleng (bukit) Lancuk yang berada di sekitar Danau Lau Kawar bisa juga menjadi jalur tracking yang menawan bagi para pelancong yang tak ingin bersusah-susah mendaki Sinabung.
Dan tanah lapang di sekitar danau bisa menjadi tempat favorit untuk menginap dengan mendirikan tenda selama pendakian ke Gunung Sinabung.
Seperti Erik (32), salah satu anak pecinta alam ketika ditemui di Lau Kawar mengatakan, Danau Lau Kawar merupakan sumber insipirasinya untuk menemukan jati dirinya. Baginya, area wisata Lau Kawar merupakan tempat yang kompleks, artinya di areal pegunungan itu terdapat danau sebagai tempat dimana berbagai jenis ikan hidup. Sedangkan gunung sebagai tempat kegiatan pendakian, dan hutan untuk tracking.
"Danau ini seperti rumah dimana aku dapat menemukan siapa aku sebenarnya, dimana aku dapat mengekspresikan jiwa, dimana aku sebagai manusia yang diciptakan untuk dapat 'Survive' dan bertahan hidup," pungkas Erik ketika berada didalam tenda 2x2 meter nya.
Potensi pesona alam Lau Kawar, hingga saat ini masih terkategorikan tempat pariwisata yang sedikit pengunjung. Pengunjung hanya ramai ketika menjelang hari libur atau pada hari Sabtu sore dan Minggu saja.
Pada saat liburan, jumlah pengunjung di Lau Kawar rata-rata 400-500 orang. Para pengunjung ini biasanya membawa perlengkapan tenda dan makan sendiri. Tiket pengunjung yang relatif murah, sebesar Rp 2.000 per orang, memang terjangkau bagi pelajar dan mahasiswa.
Di sekitar areal Lau Kawar masih belum disiapkan untuk keluarga yang menginginkan fasilitas istirahat yang nyaman. Disana hanya terdapat satu penginapan sederhana dengan tarif Rp 25.000 per kamar. Sedangkan tempat makan hanya berupa kedai-kedai kecil yang menjual mi rebus dan goreng-gorengan.
Namun pemerintah kini sudah mulai merenofasi beberapa bagian kecil tempat wisata itu, misalnya saja di pinggiran Lau Kawar sudah di bangun pagar besi dan di beri tehel sebagai tempat untuk pejalan kaki.
Selain itu, jalan menuju Lau Kawar yang berliku saat ini sudah kembali dilakukan pengerasan, sehingga untuk menuju danau ini menjadi lebih nyaman. Jarak Lau Kawar ke Medan yang hanya sekitar 80 km. Sedangkan dari Kota Brastagi, jarak tempuh mencapai 30 Km sehingga menjadi terasa lebih dekat bagi para wisatawan yang hendak menuju ke sana.
Dari Kota Medan, pengunjung dapat naik bus trayek Medan-Kabanjahe dari Terminal Pinang Baris. Setelah sampai di Brastagi bisa turun di terminal, dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan pedesaan seperti trayek Takshima yang akan berakhir di Danau Lau Kawar. Namun, pelancong harus sedikit sabar karena trayek Takshima ini agak jarang.
Kesuburan tanah Karo Simalem dapat dinikmati ketika perjalanan menuju ke Lau Kawar. Lahan pertanian masyarakat tampak membentang luas dan dihiasi oleh berbagai jenis sayur mayur terutama jeruk. Bagi wisatawan yang berminat, dapat langsung melakukan transaksi jual beli kepada petani jeruk di sepanjang jalan menuju Lau Kawar.
Namun tanpa ada uluran tangan berbagai pihak, pesona Lau Kawar dan keindahan jalan menuju danau ini tidak akan bertahan lama. Untuk itu diharapkan kepada pihak terkait, sudah selayaknya jika potensi objek wisata Lau Kawar terus digali sehingga menjadi sumber andalan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut. (Dhit)

Photo AlbumSUNRISE DI TANAH KAROJun 17, '08 11:38 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumThe Soul Sick...Jun 13, '08 2:50 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

ddd
dThumbnaild
ddd
Peristiwa terbakarnya tujuh rumah di kawasan Medan, mengakibatkan tertundanya siswa-siswi untuk ujian nasional. Tampak seorang boca perempuan tengha memungut puing-puing bangunan rumahnya yang habis di lalap si jago merah.

Photo AlbumThe ScavengersMar 1, '08 12:30 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumThe Ladie Night...Mar 1, '08 12:27 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Gadis ini bernama Sushi, warga Kota Meda yang biasa mangkal di seputaran Jalan Gajah Mada Medan,... Udah Tau Donk Apa Subjeknya??? That`s right, dirinya beserta kru merupakan penjaja seks komersial. Bingung juga, entah itu kebutuhan atau untuk memenuhi wejangan dimana ia tinggal... But that's enaough to fantasy of the Medan City

EventJan 21, '08 10:22 AM
for everyone
Start:     Jan 21, '08 11:00a

Photo AlbumMinorityJan 21, '08 9:47 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Of Medan City Minority. By Sutanta Aditya

Photo AlbumBy Sutanta AdityaJan 21, '08 9:42 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumBanjir terus terang...Jan 21, '08 9:21 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Air di halaman rumahku...